Denpasar, 22 April 2026 — Suasana khidmat menyelimuti ruang auditorium Pascasarjana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar pada Rabu (22/4), saat berlangsung ujian promosi doktor atas nama Ketut Agus Nova. Dalam kesempatan tersebut, ia mempresentasikan disertasi berjudul “Karya Agung Mamungkah Wrhespati Kalpautama Ngenteg Linggih di Pura Agung Mpu Kuturan Singaraja (Analisis Kritis Tri Kerangka Dasar Agama Hindu)”.

Penelitian ini mengangkat fenomena religius yang berkembang di Pura Agung Mpu Kuturan sebagai representasi sintesis antara konsep Kahyangan Jagat dan Pura Swagina. Dalam paparannya, Ketut Agus Nova menjelaskan bahwa pura kampus tidak sekadar tempat suci, tetapi juga ruang integratif antara spiritualitas dan kehidupan akademik modern.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Karya Agung tersebut berpedoman pada teks suci seperti Lontar Bhama Kertih, yang mencakup tahapan persiapan, pelaksanaan, hingga puncak upacara Ngenteg Linggih. Rangkaian ritual meliputi Mecaru, Melaspas, dan Melasti sebagai proses penyucian, yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi utama untuk “menempatkan” kekuatan suci Ida Bhatara, serta ditutup dengan Masineb.
Disertasi ini mengungkap implikasi multidimensi dari pelaksanaan ritual tersebut. Dari sisi spiritual, terjadi peningkatan sradha dan bhakti umat melalui pendekatan pembelajaran agama yang bersifat afektif dan eksperiensial. Dari sisi sosial, tradisi ngayah mampu membangun solidaritas organik-spiritual yang memperkuat kohesi komunitas kampus.

Dengan demikian, Pura Agung Mpu Kuturan diposisikan sebagai “laboratorium spiritual” yang tidak hanya menjaga kesakralan ajaran Hindu, tetapi juga mampu menjawab tantangan modernitas dalam dunia pendidikan tinggi.

Selain itu, institusi juga mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas, ditandai dengan berkembangnya minat mahasiswa terhadap integrasi ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Tradisi ini turut memperkuat pemertahanan budaya melalui proses transfer pengetahuan adiluhung dari para sarati banten kepada generasi muda.

Di luar kapasitas akademiknya, sosok Ketut Agus Nova dikenal luas sebagai figur religius yang aktif melayani umat. Selain sebagai dosen di Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, ia juga mengemban peran sebagai Ida Bhawati Anom serta Ketua PHDI Desa Kekeran, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.

Pengabdiannya di bidang spiritual telah dimulai sejak usia muda dan terus berlanjut hingga kini. Konsistensinya dalam melayani umat Hindu menjadikan dirinya tidak hanya sebagai akademisi, tetapi juga sebagai pelayan spiritual yang berdedikasi tinggi di tengah masyarakat.

Ujian promosi doktor ini tidak hanya menjadi tonggak akademik bagi Ketut Agus Nova, tetapi juga menjadi refleksi penting tentang bagaimana ajaran Hindu dapat terus hidup, berkembang, dan relevan dalam dinamika zaman modern.

Leave a comment