Denpasar, 9 Januari 2026 – Wacana pemindahan Hari Raya Suci Nyepi ke Tilem Kesanga kembali mencuat di ruang publik dan memantik perdebatan di kalangan umat Hindu Bali. Namun, dari sudut pandang akademik dan tradisi wariga Bali, gagasan tersebut dinilai bertentangan dengan fondasi kosmologi, sastra agama, serta sejarah keputusan keagamaan Hindu Bali itu sendiri.
Akademisi dan pakar wariga Bali, Dr. I Made Gami Sandi Untara, menegaskan bahwa Tilem Kesanga sejak awal tidak pernah diposisikan sebagai hari Nyepi dalam struktur kalender Caka Bali klasik. Menurutnya, Tilem Kesanga secara konsisten dipahami sebagai rahina Tawur Kesanga, yakni puncak Bhuta Yadnya untuk menyeimbangkan Bhuwana Agung (alam semesta).
“Dalam seluruh sistem wariga Bali, Tilem Kesanga adalah hari pralina, penutupan siklus, saat energi Bhuta Kala berada pada puncaknya dan harus dinetralisir melalui tawur dan caru. Nyepi justru berada setelahnya, pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa, sebagai hari brata sunya, tapa, dan yoga,” jelas Dr. Gami Sandi Untara.
Ia menilai bahwa penyamaan Tawur Kesanga dengan Nyepi merupakan kesalahan konseptual serius karena mengaburkan batas antara ritus kosmik (Bhuta Yadnya) dan laku spiritual personal (brata penyepian). Dalam sastra-sastra wariga seperti Aji Swamandala, Sri Jaya Kusunu, dan Surya Sewana, pemisahan ini ditegaskan secara sistematis dan berulang.
Secara filosofis, Nyepi juga tidak dapat dilepaskan dari posisinya sebagai Tahun Baru Saka, yang menandai wiwitan atau awal kesadaran baru. Dalam struktur kalender Caka Bali, Tilem merupakan akhir sasih, bukan awal. Oleh karena itu, menempatkan Nyepi pada Tilem Kesanga dinilai bertentangan dengan logika kosmologis wariga Bali.
“Nyepi harus hadir pada titik awal yang sunyi dan murni, bukan pada titik akhir yang sarat aktivitas penetralan Bhuta Kala. Ini bukan soal teknis kalender, tetapi soal ketertiban kosmos,” tegasnya.
Dr. Gami juga mengingatkan bahwa tradisi besar Bali, khususnya yang berpedoman pada Parahyangan Besakih, sejak awal membedakan secara tegas antara Tawur Kesanga dan Nyepi. Pedoman ini tidak bersumber pada satu lontar semata, melainkan pada kesinambungan sastra, praktik ritual, dan konsensus spiritual lintas generasi.
Ia menyoroti bahwa penggunaan lontar Sundarigama secara tunggal untuk membenarkan Nyepi di Tilem Kesanga merupakan kekeliruan metodologis. “Dalam tradisi Hindu Bali, otoritas keagamaan tidak pernah berdiri pada satu teks yang dilepaskan dari konteks tradisi hidup,” ujarnya.
Dari sisi sejarah kelembagaan, Dr. Gami menegaskan bahwa penetapan Nyepi pada Tilem Kesanga yang sempat berlaku pada periode 1960–1982 bukanlah puncak tradisi, melainkan hasil tafsir terbatas pada masanya. Keputusan tersebut telah dikoreksi secara resmi melalui Seminar Kesatuan Tafsir Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) tahun 1983, yang mengembalikan pelaksanaan Nyepi ke sehari setelah Tilem Kesanga.
“Maka wacana ‘mengembalikan Nyepi ke Tilem Kesanga’ sesungguhnya justru mengabaikan hasil koreksi institusional Parisada sendiri, serta menafikan proses pematangan teologis yang telah dilalui umat Hindu Bali,” katanya.
Dari sudut kosmologi, Tilem Kesanga juga berdekatan dengan ekuinoks Maret (bajeging surya), saat matahari berada pada titik keseimbangan kosmis. Dalam konteks ini, Tawur Kesanga berfungsi menyeimbangkan Bhuwana Agung, sementara Nyepi menjadi proses internalisasi keseimbangan tersebut dalam Bhuwana Alit, yakni diri manusia. Urutan ini dinilai tidak bisa dibalik tanpa merusak makna spiritualnya.
Menurut Dr. Gami, penolakan terhadap wacana Nyepi di Tilem Kesanga bukanlah sikap emosional atau romantisme tradisi, melainkan bentuk tanggung jawab akademik dan dharma intelektual.
“Nyepi bukan sekadar hari libur. Ia adalah sumbu kosmologi Hindu Bali. Menjaganya berarti menjaga wariga, dan menjaga wariga berarti menjaga kewarasan berpikir tradisi itu sendiri,” pungkasnya.
Dengan demikian, berbagai kalangan akademisi mengingatkan agar wacana perubahan ritus sakral seperti Nyepi tidak dilakukan tanpa kajian lintas disiplin yang mendalam, agar tidak menimbulkan kerancuan teologis dan kegelisahan sosial di tengah umat.