
Oleh
Ida Bagus Putu Eka Suadnyana, SH.H., M.Fil.H
Akademisi STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, masyarakat Buleleng tidak luput dari pengaruh transformasi sosial yang begitu cepat. Kemajuan teknologi, keterbukaan informasi, serta pergeseran nilai-nilai budaya menjadi realitas yang tak terelakkan. Namun di tengah kemajuan tersebut, muncul satu pertanyaan fundamental: Apakah peningkatan peradaban kita juga sejalan dengan peningkatan akhlak dan budi pekerti?
Jika kita menilik kembali warisan ajaran Hindu, terutama yang masih hidup dan berkembang dalam masyarakat Buleleng, peradaban sejati adalah peradaban yang berakar pada dharma, yakni kebenaran, moralitas, dan tata nilai universal. Ajaran Hindu tidak hanya mengatur hubungan vertikal manusia dengan Tuhan (parhyangan), tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama (pawongan) dan lingkungan (palemahan). Di sinilah letak pentingnya keseimbangan antara kemajuan lahiriah (sekala) dan kemuliaan batiniah (niskala).
Ajaran Hindu sebagai Pilar Peradaban dan Akhlak
Dalam teks suci Hindu, salah satunya Manawa Dharmasastra, dinyatakan bahwa:
“Dharmo rakshati rakshitah”
“Dharma akan melindungi siapa pun yang melindunginya.”
Ungkapan ini menjadi prinsip dasar bahwa hukum moral dan nilai-nilai kebaikan bukan sekadar aturan sosial, melainkan fondasi utama untuk membangun peradaban. Di Buleleng, ajaran ini masih hidup melalui berbagai bentuk upacara, tradisi, dan sistem nilai yang diwariskan secara turun-temurun.
Konsep Tat Twam Asi (aku adalah engkau) yang diajarkan sejak dini dalam pendidikan agama Hindu di sekolah-sekolah di Buleleng, merupakan dasar akhlak yang mengajarkan empati, kasih sayang, dan kesadaran spiritual dalam hubungan sosial. Sayangnya, seiring perkembangan zaman, nilai-nilai luhur ini mulai tergerus oleh pragmatisme dan egoisme individual.
Kearifan Lokal Buleleng sebagai Manifestasi Akhlak
Buleleng dikenal sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya dan sastra, seperti gaguritan, kidung, dan palawakia. Dalam karya-karya sastra ini terkandung nilai-nilai moral, etika, dan ajaran dharma yang sangat kuat. Misalnya, dalam Gaguritan Dharma Prawerti, diajarkan pentingnya mengendalikan nafsu, menjaga ucapan, dan menghargai sesama sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati.
Tradisi ngayah, mebat, dan gotong royong dalam kehidupan sosial masyarakat Buleleng adalah wujud nyata dari peradaban berbasis akhlak. Namun, belakangan ini nilai-nilai tersebut mulai ditinggalkan, terutama di kalangan generasi muda yang lebih banyak terpapar budaya global melalui media sosial.
Menumbuhkan Akhlak di Tengah Modernisasi
Peningkatan peradaban tidak cukup hanya dengan membangun jalan, jembatan, atau digitalisasi layanan publik. Yang lebih penting adalah membangun manusia yang berbudi pekerti luhur, yang menjadikan dharma sebagai pedoman hidup. Pemerintah daerah, desa adat, sekolah, dan keluarga perlu bersinergi dalam menanamkan nilai-nilai ajaran Hindu dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam bentuk seremonial, tetapi juga dalam sikap dan perilaku.
Program Pasraman Hindu di Buleleng, misalnya, dapat menjadi media efektif untuk membina generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya dan nilai spiritualnya. Selain itu, digitalisasi ajaran dharma melalui media sosial berbahasa lokal dapat menjadi cara kreatif menyemai akhlak di tengah generasi digital. Sebagaimana dinyatakan dalam Sarasamuscaya sloka 2:
“Sarvabhutesu ya pasyecchãtmãnam, samãtmanã…”
“Orang bijak melihat dirinya dalam semua makhluk dan semua makhluk dalam dirinya.”
Sloka ini mengajarkan bahwa kemuliaan tertinggi adalah ketika manusia mampu melihat kesatuan dengan semua makhluk. Ini adalah esensi dari akhlak universal, dan sekaligus dasar peradaban luhur menurut ajaran Hindu.
Kembali ke Dharma sebagai Arah Kemajuan
Peradaban yang sejati tidak dibangun hanya oleh kecanggihan teknologi dan modernitas, melainkan oleh manusia-manusia yang berakhlak mulia, berpikiran jernih, dan berhati bening. Masyarakat Buleleng memiliki bekal besar dalam hal ini, yaitu ajaran Hindu yang kaya akan nilai dharma dan budaya adiluhung.
Saatnya kita kembali menjadikan dharma sebagai kompas kehidupan. Meningkatkan peradaban bukan berarti meninggalkan akar spiritual dan akhlak, melainkan mengintegrasikannya agar kemajuan yang kita capai benar-benar bermakna dan lestari.
Referensi:
- Manawa Dharmasastra, Terjemahan I Gusti Putu Phalgunadi.
- Sarasamuscaya, Sloka 2.
- Dinas Kebudayaan Buleleng. (2023). Revitalisasi Sastra Lontar dalam Pendidikan Karakter.
- Geriya, I Ketut. (2016). Dharma dan Etika Sosial dalam Perspektif Hindu. Denpasar: Paramita.
Narayana, I Wayan. (2019). Kearifan Lokal Masyarakat Buleleng dan Pendidikan Akhlak Hindu. Singaraja: Widya Dharma Press.